Preface :
Special thanks to my teacher friends, Jane and Agnes Bemoe, for allowing me to pick their brain and for sharing their thoughts. May you always teach from the heart, because nothing will ever go wrong from the heart's point of view. May you always inspire your students, because they never fail to inspire you.
Belajar itu (seharusnya) Menyenangkan
Ada banyak alasan mengapa judul di atas itu benar. Berikut ini adalah beberapa alasan tersebut.
Alasan pertama, semua manusia diciptakan oleh Sang Pencipta lengkap dengan rasa ingin tahu yang besar. Curiosity adalah awal yang membawa manusia berkembang maju. Tanpa curiosity, manusia tidak akan pernah mendarat di bulan, tidak akan pernah menghasilkan penemuan dan inovasi besar, tidak akan bertambah pintar. Manusia pada dasarnya selalu ingin tahu, selalu tergerak untuk mencari tahu. Curiosity ini sudah ada di dalam diri kita sejak kita bayi sampai selamanya. Walaupun kita telah melepaskan bangku sekolah, rasa keingin tahuan kita masih tetap ada. Kita tetap mau tahu ini dan itu, dari hal-hal yang sepele sampai hal-hal yang besar.
Proses mencari tahu ini sebenarnya adalah proses belajar itu sendiri. Jadi seharusnya, proses belajar dari kita kecil sampai tua adalah proses yang menyenangkan, karena kita semua sudah dikaruniai DNA curiosity ini. Tidak perlu memakai paksaan. Belajar yang benar dan menyenangkan itu adalah belajar yang dapat menjawab kebutuhan curiosity kita. Belajar itu harus bisa merangsang kreativitas, imajinasi, dan out-of-the-box thinking. Kalau sudah berbicara mengenai ini semua, secara otomatis belajar itu menjadi menyenangkan. Jangan lagi belajar model hafalan atau cara diktator yang meminta anak untuk menerima saja tanpa banyak tanya. Kalau dalam kenyataan, proses belajar – terutama untuk anak-anak – menjadi tidak menyenangkan, menjadi membosankan atau malah menjadi menakutkan, maka kemungkinan besar yang salah bukanlah sang anak, tetapi sistem belajar dan tenaga pengajar itu sendiri.