Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts
Showing posts with label Bahasa Indonesia. Show all posts

Thursday, August 16, 2012

Wednesday, September 14, 2011

Fanatisme

Pernah merasa fanatik terhadap sesuatu? Fanatisme yang berlebihan biasanya kurang sehat. Pada umumnya, orang fanatik cenderung melihat sesuatu dari sudut pandang dirinya sendiri dan terlalu mengagungkan apa yang di-fanatik-in nya tadi. Dengan begitu, orang fanatik akan praktis beranggapan bahwa yang beda dengan keyakinannya itu salah atau kalah status. Pendek kata, kalau saya diperbolehkan berpendapat, orang fanatik cenderung tertutup dan kurang mau mengerti pendapat orang lain yang berbeda.

Namanya manusia, apa saja bisa dijadikan obyek fanatisme, dari urusan berat sampai urusan ringan. Dari masalah yang sensitif sampai masalah guyonan. Sejarah telah membuktikan betapa banyak kesalahpahaman, perkara kriminalitas, bahkan perang yang terjadi karena fanatisme yang berlebihan, terutama fanatisme akan agama dan ras.

Saya bukan orang yang fanatik terhadap agama, maksudnya agama saya sendiri. Saya juga bukan orang yang fanatik dengan ras tertentu. Ras saya ya sudah dari sononya, tidak bisa diganti lagi. Saya cukup bangga dengan tingkat fanatisme saya untuk dua hal ini, yang notabene tidak fanatik sama sekali. Oleh karena itu, saya suka heran dan kehabisan napas kalau berbicara dengan orang yang sangat fanatik dengan kedua hal di atas. Capek ngomongnya, karena menurut orang fanatik, yang mereka percayai selalu paling benar dan kepercayaan orang lain sudah pasti “kurang’ benar. Memang tak dapat dipungkiri bahwa kedua subyek ini termasuk yang paling sensitif buat kebanyakan orang. Itulah sebabnya saya berani bersyukur bahwa, untuk kedua hal tersebut, saya masih dapat melihat persamaan diantara perbedaan dan menghargai perbedaan diantara sesama.

Sialnya, saya termasuk orang yang fanatik di hal lain. Saya sangat fanatik dengan zodiac saya. Untung saja urusan zodiac ini bukan termasuk urusan kenegaraan yang membutuhkan kementrian khusus. Kalau tidak, sudah pasti saya menjadi sesosok manusia yang sangat menjengkelkan bagi orang lain, terutama yang berbeda zodiac. Jangankan urusan zodiac teman, lha wong zodiac suami saya saja sering saya remehkan, karena menurut saya, zodiac lain di dunia ini jauh kalah kelas dengan zodiac-ku tercinta. Well, I guess I am not a perfect non-fanatic person after all. Untunglah, di balik kegilaan fanatisme saya ini, saya masih bisa berperilaku sehat. Buktinya, saya tidak melulu berteman atau berkumpul dengan teman se-zodiac saja. Teman-teman saya terbentang dari zodiac Carpicorn sampai zodiac Sagitarius. Mungkin selain akal sehat, faktor lain yang membatasi fanatisme saya ini adalah kesulitan untuk bersosialisasi dengan orang lain jika kalimat pertama yang saya ucapkan adalah “Zodiac kamu apa? Kalau beda zodiac, saya gak mau temenan sama kamu.”

Tuesday, June 28, 2011

Kaum ibu dan urusan mengemudi

Sama seperti urusan barang elektronik, mesin, dan pertukangan, hal mengemudi juga termasuk di dalam salah satu daftar pekerjaan yang diyakini akan lebih baik hasilnya jika dikerjakan oleh pria. Sudah berabad-abad lamanya, kita selalu disisihkan oleh pria di dalam urusan berkendara. Malahan ada buku yang menjelaskan secara ilmiah, mengapa pria lebih baik dari wanita dalam hal mengemudi. Menurut para ahli tersebut, hal ini berhubungan dengan cara kerja otak yang berbeda antara pria dan wanita. Anyway, tulisan ini tidak memihak kepada salah satu jender dan tidak ditulis dari segi ilmiah pula. Tetap dalam keamburaduannya, kita hanya mau mengamati suka duka mengemudi dari kacamata kita sendiri.

Entah kenapa, kalau kita melihat ibu-ibu seusia kita mengemudi, otomatis hanya ada 2 kemungkinan. Kemungkinan pertama adalah rasa kasihan : “Ckckck pantesan amburadul nyetirnya, lha wong ibu-ibu.” Kemungkinan kedua adalah rasa jengkel : “Ampunnn ampunn! Pantesan amburadul. Dasar ibu-ibu!”

Menurut saya, mengemudi itu sama dengan pekerjaan lainnya yang memerlukan waktu latihan. Kita menjadi bisa karena biasa. Kalau dulu waktu SD kita hanya mengetik dengan 2 jari, lambat laun menjadi 10 jari. Anak batita bisa membaca 3 huruf, sekarang kita bisa membaca ensiklopedia. Bisa karena biasa bukan? Nyetir juga (seharusnya) sama saja.

Hanya segelintir manusia dari kalangan kita yang mahir dalam mengemudi. Namun kebanyakan dari kita pas-pasan saja teknik mengemudinya. Bagaikan tingkatan kungfu, tidak semua orang bisa menjadi master shaolin. Yang menjadi master shaolin biasanya sudah berlatih tenaga dalam , bertapa bertahun-tahun, dan sudah mendalami kitab rahasia.

Wednesday, January 19, 2011

Menuju kehidupan yang lebih langsing


Problema klasik post-holiday di kalangan manusia awam adalah bertambahnya ukuran lingkar perut, pinggang, dan paha akibat pola dan jadwal makan yang berantakan. Pada saat liburan, kita makan berdasarkan mood, bukan need. Happy mood makan, tired mood makan, shopping mood makan. Kesuksesan sebuah liburan diukur dari keberhasilan kita memaksimalkan kapasitas mood makan. Maka tak heran bila banyak orang ingin dirinya bertambah langsing sepulang liburan. Paling tidak, kembali ke ukuran semula lah. Saya tak terkecuali. Apalagi setelah dikomentari kiri kanan,"Gendutan ya, Melllll..."

Jadilah saya serius merumuskan rencana untuk menuju kehidupan yang lebih langsing. Enaknya kalau punya tujuan yang sama dengan teman-teman seperjuangan. Disambut baik dan dijalankan bersama-sama. Ternyata, urusan diet itu susah sekali. Selalu ada rangsangan buat makan. Selalu ada alasan untuk membuka kulkas dan mengunjungi dapur/kantin, dan mengintip meja makan. Niat dan disiplin diri sendiri yang kokoh sangat penting untuk kesuksesan sebuah diet. *ehm*

Tidak hanya satu tujuan langsing yang ingin saya sukseskan tahun ini. Saya punya dua target kehidupan langsing. Selain langsing fisik, saya juga ingin langsing pikiran. Artinya, saya tidak mau terlalu banyak mikir yang berat dan tidak-tidak. Saya tidak mau membebani pikiran saya dengan pikiran negatif dan rasa cemas yang berlebihan. Ini semua membuat pikiran saya gemuk, kelebihan lemak jahat yang tak perlu. Kalau mau langsing fisik saja susah, langsing pikiran adalah juaranya. Jika skala kesulitan langsing badan itu 10, skala untuk langsing pikiran adalah 1000. Susaaah pol!

Thursday, December 2, 2010

Kita dan Rumput tetangga



Saya termasuk wanita yang beruntung. Di usia yang tak lagi belia, saya masih boleh bangga beradu kecantikan kulit dengan para wanita yang jauh lebih muda. Dan semuanya ini saya dapatkan tanpa embel-embel dagangan kosmetik jutaan atau jimat dokter kulit atau mandi air susu dicampur bunga mawar. Malahan saya tidak terlalu menggubris urusan kulit wajah dan badan.

Lucunya, justru orang lain yang selalu memperhatikan kulit saya ini. Dari tukang salon, penjahit baju – dari yang kondang sampai yang rumahan, tukang pijat, penjual kosmetik, sampai ke suami saya dan teman-teman saya. Saya sering ditanya, minum jamu apa, pakai kosmetik apa, perawatan kulit di mana dan lain sebagainya.

Seperti manusia biasa lainnya, saya justru ribet sekali mengeluh soal bagian-bagian tubuh lain yang saya rasa kurang sempurna. Mata yang sipit sebelah, posisi gigi yang miring, rambut yang tipis, perut yang bergelembung tidak rata seperti papan, paha yang bersayap, badan yang kurang tinggi semampai dan masih banyak lagi. Tiap hari bangun pagi, pergi berkaca, dan langsung memergoki (kembali) segala kekurangan fisik saya tadi. Tak sekalipun saya meluangkan waktu untuk mengamati keindahan kulit saya yang tersohor itu, boro-boro mau meluangkan waktu untuk merawatnya. Prioritas utama saya yaitu menguruskan perut dan menghilangkan sayap di paha. Kalau perlu tidak usah makan sama sekali, sampai sakit maag hebat membuat saya lemas. Meluangkan waktu memeriksa serta mengukur apakah komposisi gigi saya yang miring bisa mendadak lurus dalam semalam. Sibuk menghitung helai rambut yang rontok tiap kali disisir. Sibuk berkhayal bagaimana cantiknya saya kalau badan saya tinggi di atas 1.5 m bak peragawati.
Terkadang, waktu saya juga habis mengagumi apa yang dimiliki orang lain, tetapi yang tidak dimiliki saya. ”Wah, si Anu kurus langsing ya. Perutnya rata lho.” Atau “Beruntung sekali si Anu. Matanya belo, bulu matanya lentik.” “Coba kalau saya bisa setinggi si Anu, semua peragawati lewaaat dah.” Kalau ada yang memuji saya, “Kulitmu halus dan wajahmu tidak jerawatan,” sayanya cuma melengos masem. “Plueassee dweeh…”

Thursday, October 7, 2010

Sekolah vs Les



Dahulu kala, semua hewan diwajibkan untuk bersekolah layaknya para manusia. Awalnya semua hewan masuk di kelas yang sama untuk mendapatkan pelajaran dasar pertama. Pelajaran dasar pertama antara lain adalah membaca peta hutan rimba, berhitung dan penguasaan karakter musuh.

Lambat laun, kelas dipecah sesuai dengan karakter masing-masing hewan. Para raja rimba seperti singa dan harimau mengikuti kelas mengintai mangsa dan kelas lari cepat. Para pemamah biak diajarkan cara memilih rumput yang segar dan bagaimana cara mengunyah yang tepat.

Tanpa disadari, terjadilah persaingan antar hewan dan antar sekolah. Semua berambisi untuk mencetak murid-murid yang sempurna dan gilang gemilang bak bintang. Status elit antar sekolah juga dipertaruhkan.

Untuk keperluan ini, sekolah-sekolah lalu menerapkan pelajaran yang lebih sulit dan menganut system penilaian yang lebih tinggi kepada para murid. Imbas dari pergeseran ini adalah menjamurnya acara pelajaran tambahan di luar sekolah, terutama untuk anak-anak hewan yang kurang mampu beradaptasi dan untuk anak-anak hewan yang berambisi menjadi bintang. Dipanggillah para pakar dari luar sekolah. Jadilah para anak sapi diajarkan (secara lebih mendalam) bagaimana cara memamah biak yang (lebih) tepat supaya ia bisa ke sekolah dan mempraktekkan cara memamah biak yang benar tersebut. Demikian pula dengan si anak singa. Supaya ia lebih jawara di dalam memburu mangsanya, ikutlah ia di pelajaran tambahan di luar jam sekolahnya, yang mengklaim akan lebih mengasah kemampuan perburuannya. Supaya nantinya ia bisa lulus dan memperoleh nilai yang lebih tinggi di sekolahnya, demikian klaim si orang tua singa.

Tuesday, September 28, 2010

Sang Pipit Kecil


Suatu ketika ada seekor burung pipit kecil yang sedang belajar terbang. Sang Ibu tak sabar ingin anaknya segera mahir terbang tinggi. Sialnya, sang pipit kecil tidak bisa langsung terbang tinggi. Terkadang ia hanya sanggup melompat dari dahan dan langsung terjatuh. Kepakan sayapnya masih lemah dan keahlian terbangnya masih nol.

Sang Ibu semakin tak sabar. Menurut sang Ibu, terbang adalah pekerjaan yang tidak sulit sama sekali. Ini adalah keahlian dasar semua burung pipit. Dalam ketidaksabarannya, sang Ibu mulai kehilangan akal sehat. Keluarlah omelan dan cacian untuk si kecil. "Masa terbang saja kau tak bisa?" "Apanya yang susah, Nak, kan hanya mengepakkan sayap." Mulailah sang Ibu menendang dan menjitak kepala sang anak apabila ia gagal terbang tinggi.

Sang pipit kecil ketakutan untuk mencoba. Terbang yang menjadi impiannya surut tiap hari seiring dengan omelan dari sang Ibu. "Mungkin Ibuku benar. Mungkin aku memang bodoh, tak bisa terbang," pikirnya sendu.

Suatu saat, sang Ibu pipit sedang pergi meninggalkan si anak di dahan. Datanglah seekor macan yang sedang lapar. Si macan mengintai sang pipit, "Akhirnya, inilah makan siangku." Sambil mengendap-endap, sang macan memanjat pohon tanpa suara. Tatkala sang pipit kecil menengok, sudah terlambat tampaknya. Andai kata ia terbang, ia pasti selamat. Namun, di dalam hatinya, si pipit kecil yakin kalau ia tak bisa terbang. Bukannya selama ini sudah terbukti kalau ia memang bodoh, tak bisa terbang? Bukankah selama ini sang Ibu terus berkata demikian?

Wednesday, July 7, 2010

La Furia Roja


La Furia Roja

Walau terseok-seok
Kalian bukan manusia keok
Walau tertatih-tatih
Bukti kalian pasti

Memang bola itu bulat
Tekad kalian lebih hebat
Biru, Putih, Oranye menghadang
Hanya ke Merah mata memandang

Aku asli wanita
Aku juga asli mafia bola
Aku bisa manis, bisa pula sadis
Jadi jangan kau bikin aku menangis

Tuesday, June 1, 2010

Belajar itu (seharusnya) Menyenangkan

Preface :
Special thanks to my teacher friends, Jane and Agnes Bemoe, for allowing me to pick their brain and for sharing their thoughts. May you always teach from the heart, because nothing will ever go wrong from the heart's point of view. May you always inspire your students, because they never fail to inspire you.


Belajar itu (seharusnya) Menyenangkan

Ada banyak alasan mengapa judul di atas itu benar. Berikut ini adalah beberapa alasan tersebut.

Alasan pertama, semua manusia diciptakan oleh Sang Pencipta lengkap dengan rasa ingin tahu yang besar. Curiosity adalah awal yang membawa manusia berkembang maju. Tanpa curiosity, manusia tidak akan pernah mendarat di bulan, tidak akan pernah menghasilkan penemuan dan inovasi besar, tidak akan bertambah pintar. Manusia pada dasarnya selalu ingin tahu, selalu tergerak untuk mencari tahu. Curiosity ini sudah ada di dalam diri kita sejak kita bayi sampai selamanya. Walaupun kita telah melepaskan bangku sekolah, rasa keingin tahuan kita masih tetap ada. Kita tetap mau tahu ini dan itu, dari hal-hal yang sepele sampai hal-hal yang besar.

Proses mencari tahu ini sebenarnya adalah proses belajar itu sendiri. Jadi seharusnya, proses belajar dari kita kecil sampai tua adalah proses yang menyenangkan, karena kita semua sudah dikaruniai DNA curiosity ini. Tidak perlu memakai paksaan. Belajar yang benar dan menyenangkan itu adalah belajar yang dapat menjawab kebutuhan curiosity kita. Belajar itu harus bisa merangsang kreativitas, imajinasi, dan out-of-the-box thinking. Kalau sudah berbicara mengenai ini semua, secara otomatis belajar itu menjadi menyenangkan. Jangan lagi belajar model hafalan atau cara diktator yang meminta anak untuk menerima saja tanpa banyak tanya. Kalau dalam kenyataan, proses belajar – terutama untuk anak-anak – menjadi tidak menyenangkan, menjadi membosankan atau malah menjadi menakutkan, maka kemungkinan besar yang salah bukanlah sang anak, tetapi sistem belajar dan tenaga pengajar itu sendiri.

Nasi Padang

Siapa yang tidak pernah makan di restoran Padang? Makanan satu ini sudah sedemikian terkenalnya sampai ke penghujung dunia. Nasi Padang, baik yang disantap di tempat maupun yang dibungkus, nikmatnya tiada tara. Selain menunya yang menggoyang lidah, budaya penyajian nasi Padang juga mempesona mata.

Saya suka sekali makan nasi Padang sejak saya masih kecil. Seiring dengan bertambahnya umur, nafsu saya untuk menumpahkan saus gulai ke nasi, menyantap jeroan dan otak, dan menghabiskan berpiring-piring sambal ijo menjadi berkurang. Ini murni karena alasan kesehatan, bukan karena saya sudah berpaling hati dari nasi Padang. Saya senang dengan dinamika restoran Padang, di mana para pelayannya serba sigap gerak cepat.

Setiap kali saya makan di restoran Padang, terutama di rumah makan Padang yang sudah terkenal, saya sering melamun. Saya sering bertanya sendiri, mengapa para pelayan di restoran Padang tampak selalu sibuk kesana-kemari? Terkadang tempat yang saya datangi tidak terlalu ramai pengunjungnya dan para petugasnya pun berjumlah cukup. Terkadang kalau lagi beruntung, saya disuguhi pemandangan akrobat amatir di mana para pelayan tersebut setengah berlari membawa tumpukan piring –baik yang bersih maupun yang kotor- dan bermanuver layaknya mobil balap. Pakai gaya sliding, berkelit dan mengerem mendadak. Pokoknya seru dan sibuk deh. Pertanyaan saya adalah, mengapa sibuk sekali ya? Kan restoran ini termasuk kategori restoran siap saji. Tidak perlu mengorder makanan. Para pelayan hanya membawa makanan ke meja (itupun sebagian besar sudah tertata di piring), tidak perlu menghias piring (tak seperti restoran fine dining), dan menghitung bon pada akhir acara makan. Para pelanggan pun biasanya pergi membayar ke kasir sendiri. Jadi para pelayan tidak perlu bolak-balik ke kasir membawa uang/kartu kredit serta membawa balik uang kembalian/kartu kredit untuk ditandatangani. Mengapa mereka sibuk sekali, sampai terkadang terkesan lama melayani permintaan pelanggan?

Wednesday, May 5, 2010

Seorang Sri Mulyani

Ibu Sri Mulyani

Hari ini, 5 Mei 2010, ramai diberitakan di media bahwa Ibu Sri Mulyani memperoleh tawaran pekerjaan yang bergengsi di World Bank sebagai seorang Managing Director. Ini prestasi yang luar biasa untuk seorang anak bangsa. Baru sedikit anak bangsa yang sanggup menorehkan prestasi seperti ini di jagat belantara dunia. Namun sayangnya prestasi ini ternoda oleh banyaknya tudingan miring dan nada sumbang mengenai keterkaitan Ibu Sri di kasus Century di tanah air.

Terlepas apakah Ibu Sri Mulyani bersalah atau tidak - perlu diingat bahwa tak ada yang benar-benar hitam dan tidak ada yang benar-benar putih di dunia perpolitikan - kita sebagai saudara sebangsa selayaknya bangga akan prestasi ini. Kalau bukan kita yang bangga, lalu siapa? Kalau bukan kita yang terinspirasi untuk terus maju membawa nama harum bangsa, lalu siapa? Kalau bukan kita yang mau bersusah payah mengikuti jejak segelintir orang yang berusaha membawa kebaikan untuk bangsa ini, lalu siapa? Sangat disayangkan bahwa talenta sebesar ini harus pergi dari bumi nusantara. Kenapa orang-orang yang mementingkan diri sendiri yang menang ? Mungkin terlalu dini buat mengatakan siapa yang menang atau siapa yang kalah. Bisa dimengerti posisi Ibu Sri yang akhirnya memilih mundur dari jabatan menteri..mana enak sih kalau bekerja diusik melulu dari kiri kanan depan belakang? Keputusan beliau ini langsung dibarengi dengan anjloknya IHSG, terjun bebas demikian komentar para pialang. Para investor yang selama ini menghormati kebijakan dan professionalism beliau menjadi panik.

Monday, April 26, 2010

Money Talks Bulls**t Walks

Di suatu sore yang panas, saya bercurhat dengan seorang sahabat nyentrik bernama C lewat salah satu media chatting. Percakapannya singkat, tetapi drama percakapan ini lalu berkembang-biak lebih hidup di dalam otak saya. Seakan-akan per-chatting-an 10 menit tadi berubah menjadi percakapan face-to-face beneran di sebuah kedai kopi Starbucks... lengkap dengan Lattee, cinnamon rolls, blackberries, oversized handbags, dan Marlboro (yang terakhir ini khusus buat C).

“Heran ya.. kenapa banyak sekali orang munafik di dunia ini,” keluh saya dengan nada putus asa.

“Baru tau loe?” sahut C cuek.

“Gue selalu kena ama orang beginian, yang mengakunya suci, sok berkelas, sok berpendidikan, tapi kenyataannya jauh euy. Ngelihat semuanya kok dari pikiran yang sempit. Gak open-minded.”

“Money Talks bulls**t walks.”

“Judgemental, prejudice...“

“Money talks bulls**t walks.”

“Coward, sok tau, reseee deh pokoknya. Benci banget ama orang-orang berjenis pretentious begini. Benci, Benci. BENCI!”

“Money talks bulls**t walks.”

“Could you please STOP saying that! Focus, girl, focus.”

“Lha ini fokus. Itu jawaban dari semua keluh kesah cengeng loe.”

“Lucu kan, C. Tuhan saja tidak pernah judgemental, ya gak? Orang yang berdosa aja masih dianggap sederajat, tidak dihakimi secara membabi buta. Apalagi disalah-salahkan, di-asbun-asbunkan, diejek-ejek. Lha kenapa manusia yang ngaku beragama dan berpendidikan banyak yang tingkahnya gak begitu? Why why ?”

“As I said...”

“DON’T!! Ya, ya gue tahu.. money talks bulls**t walks.”

“Temen gue juga banyak yang taking advantage abis-abisan. Yang menghakimi gue dengan norma-norma mereka sendiri.Tapi lucunya di depan gue manis banget, apalagi kalau ada perlunya. Jangan tanya deh kalau di belakang gue..”

Wednesday, April 21, 2010

Kita dan Teman Sejati

Banyak pepatah bijaksana yang menjelaskan apa artinya seorang teman sejati. Wejangan mengenai teman sejati biasanya berkisar kepada sifat-sifat seorang teman sejati, yaitu selalu siap di sisi kita pada saat senang dan susah. Wejangan selanjutnya menegaskan betapa sedikitnya orang-orang di sekeliling kita yang bisa disebut teman sejati. Teman sejati itu bak barang mewah, yang tidak mungkin bisa didapat secara diskon, buy one get one free atau di acara midnight sale. Ada yang mengistilahkan teman sejati itu ibarat branded product limited edition. Kalau sudah begini, keluarlah segala macam keluh kesah kita, yah mana bisa kebeli dengan harga segitu, jumlahnya limited banget, masa mesti rebutan antri berhari-hari. Mesti beli yang asli kah? Beli yang imitasi aja kali sudah cukup...kan gak ada yang tau ini... mungkin betul, tapi kita sendiri kan tahu. Masa mau membohongi diri sendiri?

Di umur kita yang sekarang, mencari teman sejati itu susah-susah gampang. Agak berbeda dengan saat kita sekolah dulu. Pada saat itu kita dikeliligi oleh begitu banyak manusia-manusia sebaya. Kita tidak mau berteman pun, tetap saja kebanjiran teman.
Dengan bertambahnya usia, kesempatan kita untuk mendapat teman baru biasanya lebih terbatas. Karena kita ketemunya orang-orang yang itu-itu lagi, di lingkungan yang itu-itu lagi. Kita juga semakin menyadari betapa berharganya teman-teman sejati.

Perlu ada sekolah atau les privat buat menjadi teman sejati? Sebenarnya sih tidak perlu, karena kita kan sudah punya hati nurani. Yang biasanya menjadi problem adalah kita terlalu berharap bahwa orang lainlah yang harus berusaha untuk menjadi teman sejati BUAT kita. Kita sering lupa kalau kita sendiri bisa menjadi teman sejati BUAT orang lain.

Friday, April 9, 2010

What does mellyberry mean?




Ada beberapa teman yang bertanya apa arti nama ‘mellyberry’ yang saya pakai di blog saya. Inilah cerita sepintas mengenai latar belakang lahirnya nama kebangsaan tersebut.

Semuanya berawal dari sebuah benda mungil bernama blackberry...

Long long time ago...saya tidak suka blackberry, bisa dibilang pendukung grup anti-blackberry. Tidak perlulah dijelaskan alasan amburadul saya membenci blackberry. Saya sering sekali mengejek teman-teman saya yang ber-blackberry. Diantara sekian banyak teman saya yang memakai blackberry , ada satu orang yang selalu menasihati saya berkenaan dengan sifat anti-blackberry saya. “Kalau tak kenal, maka tak sayang.” Kita sebut Ibu yang bijaksana ini dengan inisial 805LP. Beliau ini sosialita kondang, jadi untuk alasan keamanan perlu bagi saya untuk menyamarkan nama aslinya. Sekedar tambahan saja, 805LP jugalah yang memperkenalkan Facebook kepada saya yang asli orang gaptek. (Ini efek positif kalau hang out dengan sosialita tampaknya. *nyengir*).

Lalu tibalah suatu hari saya mendapat hadiah blackberry dari sang suami. Aihh senangnya. Segala mitos dan cibiran anti blackberry saya langsung sirna sekejap, secepat gelembung permen karet meletus. Memang benar kata Ibu 805LP tadi, tak kenal maka tak sayang. Hidup saya serasa lebih sibuk dengan hadirnya si mainan ajaib ini. Saat saya berhasil mengaktifkan blackberry saya, si Ibu 805LP ini dengan sukacitanya menulis status sebagai berikut “Welcome Mellyberry”. Ibu 805LP ini orang yang baik hati, jadi saya yakin bahwa status tadi ditulis dengan segala ketulusan hatinya. Memang benar-benar berniat mem-welcome saya ke dunia blackberry yang gegap gempita. Tapi, karena dulunya saya terkenal pedas kalau menyindir para pemakai blackberry, ucapan welcome mellyberry membuat saya jadi merasa bersalah. “Halah, dari dulu kek bergabung dengan para berries, pakai protes-protesan segala.”

Sunday, March 28, 2010

Bahasaku, bosomu, and my language




Tulisan satu ini sudah pasti bakalan diprotes oleh banyak orang. Yang pertama, bisa diprotes oleh orang-orang yang menganut kosa kata dan tata bahasa yang benar dan rapi. (Tulisan ini akan ditulis dalam lebih dari satu bahasa dan dialek). Kedua, mungkin akan diprotes oleh kalangan akademik yang mengatakan pentingnya satu mother language for the children. Mereka mungkin benar, tapi ini bukan tulisan ilmiah untuk mengklaim benar atau tidaknya suatu teori. This is my story dan story dari kebanyakan teman-teman kita yang dibesarkan dalam suatu lingkungan yang multi language and multi culture.

Saya orang Jawa asli. Bukan Jawa halus ala Solo atau Jogja, tapi Jawa Surabaya. Bahasa Jawa Surabaya iki rodo khas, blasteran antara Jawa dan Madura. Bahasane keras, penuh pisuhan (swearing words) , tapi very very intimate dan penuh rasa kekeluargaan. Selain itu tentunya saya fasih berbahasa Indonesia, lalu sedikit Mandarin sana sini. Mandarin yang saya dapat saat saya masih kecil itu pun bukan Mandarin baku, tapi blasteran Jawa Mandarin. Makanya kalau mau dipakai di event internasional, orang yang bukan Jawa pasti tidak ngerti bahasa Mandarinnya Wong Jowo. Pada saat kuliah, saya pindah ke Jakarta, jadilah gue canggih berdialek ala orang Ibukota. Loe dan gue getu loh. Lalu pergi ke USA, tinggal di daerah West Coast. Jadilah berbicara English What's up, man?. Sewaktu bekerja, saya beruntung dikelilingi oleh banyak orang dari bangsa lain. Diantara sebegitu banyaknya bahasa dan dialek di tempat kerja, yang paling lekat adalah Sing-Lish. Haiya you kepo one ah, you tell me. You want, you take lah.. This one can’t do lah, too complicated meh.

Terus saya married dengan orang Jakarta made in Ujung Pandang. Wah, kalau sudah dikelilingi sanak saudara asal Makassar, jadilah ko jangang makang ikang sama pegang hangfong. (kau jangan makan ikan sama pegang handphone). Wow, ini dialek tergampang yang pernah saya temui. Cukup tambah saja huruf “g” di setiap akhir kata, kadang-kadang buang sedikit embel-embel ‘mi’, ‘kodong’, ‘toh’, bereslah sudah. Sampai suatu saat saya diminta untuk mematikan lampu... “ko bunuh mi tuh lampu.” Alamak, dibunuh pake apa?

Wednesday, March 24, 2010

Love is a Magical Thing


My friend, the collegegirl, once asked me to write something about “love”, “magical moments”, “there’s a heart inside”, “something romantic.” Saya bisanya cuma meringis nyinyir, “Haree genee masih seputar love dan sejenisnya? Valentine udah lewat boo..” Tapi tentu saja saya tidak sedemikian resenya menjawab permintaan sang collegegirl. Hanya bisa maklum kalau si collegegirl ini (agak) kelebihan hormon ABG nya.

So here I am, writing something about love. Tentunya dengan segala keterbatasan dan kenyinyiran saya terhadap subyek love itu sendiri.

Apa sih cinta itu ? Saya tidak punya definisi yang tepat, tapi sudah banyak orang hebat yang berhasil menggambarkan apa cinta itu ke dalam bentuk yang lebih grafik. Dari cerita klasik Romeo and Juliet, ke Broadway shows Phantom of the Opera, Les Miserables, sampai ke jaman vampire dengan Twillight saga nya. Semua berusaha menggambarkan cinta yang sejati, cinta yang rruarr biasa, cinta yang dahsyat. Saking dahsyatnya sampai salah satu pihak rela mati demi sang cinta. Tak bisa hidup tanpa sang kekasih pujaan hati. Sudah cukup romantis belum nih? Garis besarnya, cinta adalah perasaan menyayangi seseorang atau sesuatu yang sedemikian besarnya sehingga kita rela berkorban untuk orang atau sesuatu tadi. Cinta itu lebih besar dan lebih beharga dari diri kita sendiri. Kita rela menjadi selfless, tidak semuanya me,myself, and I. Kita rela kalau kepentingan kita ditaruh di urutan keseribu, dan kepentingan orang yang kita cintai itu ditaruh di barisan terdepan. Cinta kita kepada pasangan kita, kepada anak-anak kita, kepada orang tua kita, kepada keluarga, kepada teman baik kita adalah contoh selfless unconditional love. Tidak semua cerita cinta atau perasaan cinta mesti dibarengi dengan sengatan listrik 1000 watt yang menggelepar-gelepar. Itu dulu kali, pas masa remaja selagi hormon sedang tidak stabil dan saat kita sedang merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya. Seiring dengan berjalannya waktu, jatuh cinta mungkin tidak se-nggelepar-nggelepar dulu, tapi jangan sampai tidak ada sengatannya sama sekali. Cinta kalau sudah tidak ada sengatan listriknya sama saja dengan mati lampu, gelap gulita boo. Kadang-kadang, yang namanya manusia, sering terjebak dalam rutinitas yang itu-itu saja. Dan rutinitas itu bisa mempengaruhi rasa dan kesan cinta itu sendiri. Biasanya dampaknya menjadi lebih hambar.