
Problema klasik post-holiday di kalangan manusia awam adalah bertambahnya ukuran lingkar perut, pinggang, dan paha akibat pola dan jadwal makan yang berantakan. Pada saat liburan, kita makan berdasarkan mood, bukan need. Happy mood makan, tired mood makan, shopping mood makan. Kesuksesan sebuah liburan diukur dari keberhasilan kita memaksimalkan kapasitas mood makan. Maka tak heran bila banyak orang ingin dirinya bertambah langsing sepulang liburan. Paling tidak, kembali ke ukuran semula lah. Saya tak terkecuali. Apalagi setelah dikomentari kiri kanan,"Gendutan ya, Melllll..."
Jadilah saya serius merumuskan rencana untuk menuju kehidupan yang lebih langsing. Enaknya kalau punya tujuan yang sama dengan teman-teman seperjuangan. Disambut baik dan dijalankan bersama-sama. Ternyata, urusan diet itu susah sekali. Selalu ada rangsangan buat makan. Selalu ada alasan untuk membuka kulkas dan mengunjungi dapur/kantin, dan mengintip meja makan. Niat dan disiplin diri sendiri yang kokoh sangat penting untuk kesuksesan sebuah diet. *ehm*
Tidak hanya satu tujuan langsing yang ingin saya sukseskan tahun ini. Saya punya dua target kehidupan langsing. Selain langsing fisik, saya juga ingin langsing pikiran. Artinya, saya tidak mau terlalu banyak mikir yang berat dan tidak-tidak. Saya tidak mau membebani pikiran saya dengan pikiran negatif dan rasa cemas yang berlebihan. Ini semua membuat pikiran saya gemuk, kelebihan lemak jahat yang tak perlu. Kalau mau langsing fisik saja susah, langsing pikiran adalah juaranya. Jika skala kesulitan langsing badan itu 10, skala untuk langsing pikiran adalah 1000. Susaaah pol!